Dibilang Nggak Laku Hingga Belagu, Resiko Jomblo yang Sering Dibully ini itu

Hai! Bagaimana kabarmu, kabar keluargamu, kabar asmaramu? Masihkah pacarmu setia di sampingmu? Atau masihkah kamu setia menangisi mantan pacar yang meninggalkanmu :3 (smirk smile).

Perihal status hatimu saat ini, ijinkan saya nakal sebentar dengan mengulik sebuah sisi dari kaum jomblo. Kenapa harus jomblo yang ditulis sih? Mau dibully seperti apapun, kaum jomblo pasti sabar. Wong perihal menanti jodoh aja mereka sabar, apalagi kalau cuma perkara bullyan hehe.

Sejarah Jomblo

Entah awalnya bagaimana, istilah jomblo digunakan untuk menyebut seorang makhluk yang hidup sendiri tanpa pasangan. Ironisnya sebutan itu ditambah dengan istilah “ngenes” yang menandakan bahwa kehidupan seorang jomblo pasti suram dan mengenaskan.

Nggak ada yang mengucapkan selamat pagi, selamat malam, selamat tidur, nanyain kabar, atau ngajakin makan. Dengan alasan yang demikian, orang sudah bisa menghakimi sepihak bahwa hidup seorang jomblo pasti tidak mengasyikkan.

Kata siapa jomblo nggak bisa bahagia

Parahnya lagi sebutan jomblo selalu diiringi dengan guyonan bahwa dia jomblo karena nggak laku. Kalau cowok berarti dia selalu gagal dalam pdkt dan ditolak oleh banyak wanita. Kalau cewek berarti nggak ada yang mendekati dan menyatakan cinta.

Percaya atau tidak, dari hasil penelitian menyatakan bahwa orang cantik dan tampan cenderung tidak memprioritaskan mencari pasangan untuk berpacaran. Karena ada banyak life goals dalam hidupnya yang ingin dicapai lebih dulu ketimbang bermain-main dengan urusan perasaan.

Nah kamu yakin kalau orang tampan dan cantik itu bukan kategori orang yang nggak laku? Kalau orang tampan dan cantik niat nyari pacar, ya bisa jadi yang jones itu kamu, wong wajahmu pas-pasan (senyum jahat lagi hehe).

Isyana aja jomblo kok

Alasan Jomblo

Atau parahnya lagi embel-embel jomblo yang dikaitkan dengan sifat belagu yang terlalu pemilih. Nah poin ini juga sepertinya harus diluruskan. Begini pemirsa, urusan hati itu nggak bisa dipaksakan loh. Sekalipun saya bilang bahwa saya ngefans setengah hidup sama Ji Chang Wook, Hong Jong Hyun, dan Im Siwan, saya tetep nggak bisa mengatai mereka sebagai jomblo yang belagu karena menolak cinta tulus saya kan?

Samahalnya dengan saya dan kamu yang tetap nggak punya hak untuk menghakimi kebelaguan seseorang. Bukankah setiap manusia memang diberi hak untuk memilih? Begitupun dengan urusan memilih siapa yang ingin dijadikan pasangan hidup.

Menjadi jomblo itu juga bisa dikategorikan dalam urusan memutuskan pilihan hidup. Misalnya bagi mereka yang ingin tetap menjaga hatinya sampai pasangan halalnya tiba menjemput (langsung keluarin tagline jomblo sampai halal).

Atau mereka yang ingin fokus membahagiakan orangtuanya sebelum benar-benar serius mencari pasangan hidup. Kalau alasannya sudah seperti itu, bisakah kamu tetap menghakimi mereka sebagai sosok yang terlalu belagu dan pemilih?

Bagaimana kalau terlalu belagu karena kriteria ideal untuk mencari pendamping idaman? “Pokoknya saya nggak mau nikah kalau bukan sama Ji Chang Wook atau yang mirip kayak dia, titik!” Nah-nah tenang dulu pemirsa.

Coba saya ingatkan sejenak dengan kalimat baik berikut ini. Jika nanti kamu jatuh cinta, percayalah segala kriteria idealmu akan hilang begitu saja. Atau yang ini, Kamu bisa merencanakan ingin menikah dengan siapa, tapi kamu tak bisa berencana kepada siapa hatimu akan jatuh dan mencinta.

Kok gitu? Kamu tau kan kalau Tuhan adalah pemilik hati yang bisa membolak-balikkan hati manusia sesuai kehendaknya? Jadi sekalipun saya ngebetnya nikah sama Ji Chang Wook, kalau tiba-tiba di sebuah jalan atau sudut kota saya ketemu sosok yang berbeda jauh dengan kriteria idaman. Lalu tiba-tiba jantung berdegup kencang pertanda ada getaran aneh yang menyelimuti dada dan orang bilang itu gejala jatuh cinta, saya mau apalagi coba?

Jadi selagi menunggu hati ini kembali merasakan jatuh dan mencinta, biarkan jomblo-jomblo seperti saya dan mereka bebas berkarya dan menikmati masa muda yang melajang.

Toh saya yang jomblo kenapa kalian yang harus ribut? Daripada cuma melontarkan bahan bullyan, mending sekalian bawakan saya seorang kenalan yang bisa dijadikan pasangan haha.

Bukan Jones, tapi Jomblo Bahagia

Tapi dari lubuk hati terdalam, bagi saya jomblo itu anugerah. Karena di usia yang sekarang, sebelum nantinya saya mengabdikan diri untuk melayani suami dan anak-anak, saya bisa menikmati masa muda dengan bebas. Bebas dalam artian saya nggak perlu lapor kepada komandan ke mana dan dengan siapa saya bepergian.

Uang juga nggak perlu dihambur-hamburkan untuk jatah kencan berdua, masih mending dibelikan martabak untuk dinikmati dengan keluarga di rumah. Bonus lainnya status jomblo yang melekat ini bisa jadi bahan candaan untuk teman-teman kita. Bayangin deh kalau di antara temanmu nggak ada yang jomblo, dijamin deh kamu nggak akan punya bahan candaan haha. Jadi selagi kamu masih bisa membuat diri sendiri dan orang lain bahagia walaupun statusmu masih jomblo yang katanya mengenaskan, cuek aja. Toh ini hidupmu buat apa mikir kata orang?

Nanti kalau memang sudah saatnya, namanya jodoh pasti bertemu. Percaya aja sama janji Tuhan yang menciptakan manusia lengkap dengan pasangannya. Kewajibanmu cuma berusaha menjadi lebih baik agar kelak kamu bertemu jodoh yang sama “baik”nya denganmu.

Jadi, daripada sibuk meratapi nasib jomblomu, mending asikin aja bareng teman dan keluarga. Ingat bahagiamu nggak cuma bergantung pada pasangan mblo! Jangan lupa bahagia ya mblo!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *