Omzet Ratusan Juta, Mengulas Rahasia Sukses Resto Jejamuran Jogja

Hai readers! Apa kabar? Adakah pembaca yang merindukan saya, eh maksudnya rindu postingan saya? Nah, jadi di postingan ini masih kelanjutan dari wisata kuliner Jogja. Jika pekan lalu ada mie legendaris, kali ini yang akan saya bahas adalah Resto Jejamuran Jogja. Dan kebetulannya, kunjungan kali ini saya berkesempatan untuk bertemu langsung dengan ownernya loh. Jadi di postingan ini nanti saya akan bagi-bagi cerita dan pengalaman langsung dari owner saat mengelola bisnis besar Jejamuran ini.

Wait! Before that, I wanna say thank you so much teruntuk teman yang rese tapi bener sih haha, yang sudah membuka mata hati saya untuk belajar menulis dengan berbeda. Jadi dengan semangat baru, saya mencoba untuk menulis kisah kuliner dengan gaya yang lain. Ah semoga kali ini pembaca sekalian bisa merasa lebih nyaman dan menyukainya. Tapi kalau ada saran dan kritik caci maki lainnya saya siap nampung kok buat bahan perbaikan selanjutnya hehe. Samahalnya dengan apa yang saya dapatkan dari wisata kuliner Jogja part 2 di Jejamuran. Ketika Pak Ratidjo sang pemilik menyatakan bahwa “kalau ingin tumbuh kuat, banyak-banyak dengan pendapat yang sehat!”

Sentilan maut itu akhirnya mengantarkan saya kembali ke memori tualang Jogja kala itu.  Pekan lalu ketika saya ke Jogja dengan tujuan yang sedikit nyeleneh. Tujuan utamanya bukan untuk berwisata ke Gunung Kidul atau Pantai Parangtritis. Kali ini murni untuk menjelajah industri besar di Jogjakarta. Salah satu industri yang sempat saya kunjungi adalah RestoJejamuran. Apa bagusnya tempat ini sampai saya rela jauh-jauh dari Malang ke Jogja hanya untuk berkunjung ke sebuah “Resto”?

Sebenarnya jawabannya sederhana, karena saya ingin melihat dan bertemu sendiri dengan orang-orang sukses itu, berbincang dan “mencuri” sedikit ilmunya agar niat berwirasuaha saya semakin kokoh. Alhasil, Jejamuran menjadi list utama dari perburuan usaha sukses di Jogja.

Kalau hanya mendengar namanya, wisata kuliner ini sepertinya terkesan biasa saja. Padahal ketika sampai di lokasi, kamu akan dibuat takjub dengan penghasilan besarnya yang berhasil diraup setiap hari. Tak tanggung-tanggung, untuk rumah makannya saja setiap hari berhasil menjual masakan olahan dari jamur lebih dari 1 ton. Jumlah itu belum termasuk penghasilan yang didapatkan dari industri pembibitan jamur yang juga dilakukan sendiri. Bayangkan berapa puluh juta uang yang masuk untuk usaha yang katanya sederhana ini.

Resep Rahasia Jejamuran

Begitu pula jika selama ini kamu beranggapan bahwa makan jamur terasa membosankan, itu juga salah. Karena, selain menjadi pilihan yang sangat cocok bagi vegetarian, makan di jejamuran nggak akan pernah membuatmu merasa bosan. Dari sayur hingga lauk yang disediakan semua murni terbuat dari beragam jamur pilihan. Sayur tongseng jamur, rendang jamur, sop jamur, sate jamur, hingga wedang jamur dipastikan akan menggugah seleramu dalam sekali coba.

Resep Rahasia Jejamuran
Daftar Harga Jejamuran

Adalah pak Ratidjo Harjo Suwarno, penggagas ide sekaligus pemilik usaha Rumah Makan Jejamuran. Alhamdulillah siang hari itu saya berkesempatan untuk bertemu dan melakukan sedikit wawancara bersama beliau. Sekalipun sudah tidak berusia muda, beliau ini masih sehat segar bugar, bahkan sanggup menjadi seorang narasumber yang luar biasa. Mungkin ini salah satu manfaat yang beliau dapatkan setelah rutin makan jamur setiap hari hehe.

Setelah singkat berkenalan dengan beliau, ternyata saya baru tau bahwa sebelum menjadi seorang wirausahawan sukses, beliau adalah karyawan yang sudah mengabdikan hidupnya untuk beberapa perusahaan selama 30 tahun. Angka yang cukup fantastis mengingat kesuksesan beliau saat ini sama sekali tidak mencerminkan hidup keras yang pernah beliau alami dulu. Jika ada sebagian dari kita yang beranggapan bahwa usaha sukses lahir dari mereka yang punya modal besar dan link kuat, sepertinya kalian harus membaca kisah hidup Pak Ratidjo. Karena dari beliau kita akan disadarkan jika kesuksesan itu bukan Cuma milik orang kaya. Yang miskin juga berhak sukses asal mau berusaha.

Kurang lebih selama 1 jam pembicaraan dengan Pak Ratidjo berlangsung. Tidak terasa, karena berbicara dengan beliau rasanya seperti membuka mata batin yang dulu selalu gelap. Bayangan akan sosok kaya yang sombong seakan sirna setelah berbicara dengan beliau yang bersahaja dan sesekali bercanda. Ah sungguh pak, saya siap daftar jadi mantu bapak deh, eh!

Owner Jejamuran Jogja

Note: saya bukan jurnalis dan wartawan professional, jadi segala aturan dan pedoman wawancara juga saya tidak punya. Segala yang saya tanyakan di sini bersumber dari unek-unek semata.

Pertanyaan 1. Selamat siang pak, saya Alif dari Malang. Jika Bapak berkenan, ijinkan saya bertanya tentang profil singkat dari Bapak Ratidjo.

 Siang nak. Nama bapak adalah Ratidjo Harjo Suwarno. Lahir di Jogjakarta tanggal 16 April 73 tahun yang lalu. Bapak sudah tua, anaknya saja sudah lima tapi kalau istri ndak pernah jadi dua (si bapak masih sempat bercanda). Kalau nak alif seorang sarjana, Bapak ini cuma lulusan S tiga, SD, SMP, dan SMA. Kenapa bapak dulu nggak kuliah? Alasannya karena faktor biaya. Bapak tidak lahir dari keluarga kaya raya, butuh kerja keras bagi orangtua Bapak untuk menyekolahkan bapak dulu. Jadi dulu tekad bapak setelah SMA ya kerja. Kurang lebih 30 tahun bapak bekerja sebagai karyawan di perusahaan. Sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti padahal saat itu posisi bapak sudah di tingkat atas.

Pertanyaan 2. Kalau sudah di puncak karir, lantas kenapa Bapak melepasnya?

Nak, kalau kamu punya cita-cita jadi PNS itu salah besar. Kalau kamu punya cita-cita jadi karyawan di perusahaan besar juga tidak baik. Kenapa begitu? Kamu ini masih muda, boleh punya mimpi besar. Kalau bisa jadi bos untuk diri sendiri kenapa harus repot-repot kerja untuk orang lain? 30 tahun bapak kerja ikut orang, hasilnya ya begitu. Gaji satu bulan ya cukup untuk hidup satu bulan. Setinggi apapun karir Bapak saat itu, masih belum bisa menjamin hari tua bapak akan baik-baik saja. Jadi akhirnya demi anak dan istri tercinta,

Bapak ingin jadi kaya biar tua nanti nggak sengsara. Bapak ini kapok jadi miskin.

Pertanyaan 3. Terus pak kalau awal mula usaha ini seperti apa ya ceritanya? Modalnya dapat dari mana kok bisa usahanya sebesar ini?

Semua kesuksesan itu nggak bisa diraih instan nak, kecuali kalau kamu turunan dari keluarga cendana. Semua orang butuh proses buat sukses, Bapak pun demikian. Sebelum Bapak punya 800  kursi di rumah makan ini, dulu setelah bapak mundur dari perusahaan, kerja bapak cuma jualan keliling dari rumah ke rumah, sekolah ke sekolah. Yang dijual makanan olahan dari jamur seperti kripik jamur. Nah di jaman itu, orang Indonesia khususnya di desa bapak masih belum kenal sama jamur. Mereka masih berpikiran bahwa makan jamur  bisa membuat mereka keracunan hingga berujung kematian. Bayangkan saja bagaimana susahnya bapak jungkir balik demi mengubah pola pikir masyarakat desa.

Lalu suatu hari bapak berinisiatif untuk menjual kripik jamur di SD saja. Dengan harga 500 rupiah, alhamdulillah dagangan bapak laku diminati anak-anak. Lama-lama modal bertambah, bapak mencoba membuka angkringan kecil. Mencoba trik promosi yang baru lagi dengan memberikan gratisan sayur jamur alhamdulillah banyak orang mampir. Saking banyaknya orang yang mampir, sebuah pemikiran muncul di kepala bapak “Bapak beranggapan jika gratis, seolah mereka berani mati”.

Hingga bapak merasa yakin bahwa mereka akan kembali meski tidak dikasih gratisan lagi, bapak dan ibu mulai menambah menu olahan masakan jamur. Beberapa tahun kemudian akhirnya bapak sanggup beli 2 set meja dan kursi bekas untuk angkringan kecil bapak. Lalu di tahun berikutnya bapak beli lagi 3. Hingga akhirnya pihak Bank mulai mempercayai bahwa usaha bapak punya potensi berkembang jika didanai. Dan seperti yang nak alif lihat sekarang, bapak punya 800 set meja kursi di sini dibeli dengan kualitas baru.

Pertanyaan 4: Terus pak untuk pembagian kinerja dan saham dengan keluarga bagaimana?

Anak saya lima, masing-masing 15% cukup. Saya juga nggak akan memberi mereka uang dengan cuma-cuma seperti yang biasa nak alif lihat di tv. Kalau mereka mau uang ya harus kerja. Nah sisa dari saham 100% adalah 25% dimiliki oleh chef saya. Karena bahaya kan kalau chef bapak tiba-tiba pindah ke tempat lain. Jadi bapak merayunya dengan saham 25%. Kalau bapak sendiri nggak dapat apa-apa, karena yang jadi chef Jejamuran adalah istri Bapak, dan istri saya mutlak 100% milik bapak (bagian ini beliau menjawab dengan tertawa sumringah, khas suami yang bangga dengan istrinya).

Pertanyaan 5: Dalam sehari berapa porsi yang habis terjual pak? Terus untuk bahan utama jamurnya sendiri dapat darimana? Sepertinya yang saya lihat jamur yang dipakai bukan jamur yang umum dijual di pasar.

Nah untung kamu tanya nak. Jadi bapak mau sedikit pamer, jadi selain punya rumah makan dengan luas parkir 1 hektar, bapak punya pabrik yang khusus digunakan untuk menanam dan mengembangkan bibit jamur. Di pabrik itulah ada puluhan jenis jamur yang biasanya bapak gunakan untuk masak di sini. Karena wilayah di sini tidak memenuhi suhu ideal untuk menanam jamur, bapak memakai bantuan AC yang ditempatkan di setiap kamar jamur, kamar nak alif sudah ada AC nya? (*jleb atuh pak)

Budidaya Jamur

Kalau porsinya sendiri bapak nggak ngitung, cuma biasanya sehari mengahbiskan 1 ton jamur, alhamdulillah. Apalagi kalau weekend nggak ada sepinya.

Pertanyaan 6: Kalau untuk pengembangan menu bagaimana pak? Dilakukan dalam periode berkala atau seperti apa?

Di sini ada banyak menu unik yang nggak akan nak alif temukan di mana-mana. Karena jejamuran Jogja ini Cuma satu di dunia. Menunya banyak mulai dari sate jamur, sop jamur, rendang jamur, lumpia jamur, jamur tongseng, hingga wedang jamur. Enak dan sehat kalau makan di sini. Nah kalau periode mengembangkan menu biasanya dilakukan saat saya berkumpul dengan keluarga. Lalu masing-masing dari bapak, ibu, dan anak-anak akan menyatakan pendapatnya tentang varian menu baru yang patut dicoba. Jika sudah dimasak lalu dirasakan dan terasa kurang enak ya tidak akan kita kembangkan, seperti saat itu kita tidak jadi membuat menu Rawon Jamur karena rasanya dinilai kurang unik.

Pertanyaan 7: Terakhir pak, saya mau meminta saran yang tepat untuk saya lakukan jika ingin jadi wirausahawan.

Kalau nak alif mau jadi pengusaha ingat pesan bapak, “setiap usaha yang sukses lahirnya dari kerjasama yang bagus antar tim. Ya antara pemilik dengan keluarganya, juga dengan karyawannya.”  Karyawanmu itu punya potensi untuk membesarkan atau menghancurkan usahamu, jadi perlakukan mereka dengan sebaik-baiknya agar yang tersisa hanya energi positif untuk membesarkan usaha kita.

Jangan malu untuk mulai dari bawah, ngetuk pintu satu-satu. Kamu boleh malu kalau ketahuan mencuri, tapi selama yang kamu lakukan Cuma mengenalkan usaha dari rumah ke rumah, sekali lagi itu bukan pekerjaan hina.

Terakhir, jangan lupa dengan keluarga. Banyak orang sukses yang membengkalaikan keluarganya, kamu jangan seperti itu. Kayamu nggak ada gunanya kalau kamu nggak punya waktu berharga dengan keluarga. Pasang niat yang benar, mulai aksi nyata, dan jangan lupa berdoa pasti ada jalan!

Ini bukan acara M**** T**** tapi rasanya setiap kata yang keluar dari bibir Pak Ratidjo membuat hati teduh dan trenyuh. Semoga semua yang tertulis di atas bisa membekas lantas membuat ktia yang membaca akan berjuang keras. Man Jadda Wa Jadda! Terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan panjang nan bertele-tele ini, semoga kamu tidak menyesal. Sampai jumpa lagi di artikel yang lain! Mission clear!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *