Cuma Di Malang, Wisata Lima 5.000 Sudah Bisa Menikmati Pesona Lereng Gunung Arjuna (Budug Asu)

Hidup di era ini sepertinya harus ekstra perjuangan. Bukan cuma untuk berjuang hidup, tapi juga berjuang agar tetap eksis dan diakui oleh masyarakat sudah menjadi kebutuhan generasi millennial. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan itu lewat unggahan foto di sosial media seperti Instagram. Berbicara tentang konten di Instagram semakin hari tentu semakin beragam. Mulai dari konten food, fun, fashion, hingga yang paling membuat banyak orang iri adalah konten seputar travel. Bahkan dalam sebuah riset penelitian disebutkan bahwa mayoritas pengguna Instagram selalu mengunggah foto travelnya di Instagram. Terus apa masalahnya? Kenapa harus sampai repot-repot diulas jadi sebuah tulisan?

Pergi berwisata lalu berfoto dan mengunggahnya di sosial media memang hal yang lumrah. Yang jadi masalah adalah kalau rutinitas wisata ini dijadikan kewajiban yang harus dipenuhi. Padahal kita semua tahu bahwa biaya traveling tidak selalu murah. Ada beberapa destinasi yang harus menguras banyak uang, misalnya objek wisata buatan. Selain harus mengeluarkan lebih banyak uang, matamu tidak akan dimanjakan dengan pemandangan natural yang menakjubkan seperti jika pergi ke objek wisata alam.

Beberapa akun Instagram yang saya follow, mayoritasnya lebih suka melakukan travel ke objek wisata alam seperti gunung dan pantai. Alasannya pun beragam, ada yang bilang karena keindahan pemandangan alam selalu menakjubkan. Ada juga yang berkata bahwa menyatu dengan alam bisa menghilangkan penat dan jenuh sebagai manusia kota. Dan alasan yang paling jujur yang pernah saya dengar yaitu foto di gunung dan pantai itu hasilnya bagus mbak. Nah lo, bener banget sih jawabannya. Selain untuk refreshing, tujuan orang pergi berwisata ya untuk menghasilkan sebuah foto.

Nah kalau kamu tertarik untuk berwisata alam dengan budget murah meriah, sepertinya saya punya rekomendasi tempat yang asik. Namanya Budug Asu, sebuah nama yang digunakan untuk menyebut lereng Gunung Arjuna yang terletak di daerah Lawang, Malang. Jika kamu bertanya histori penamaan Budug Asu, maaf karena saya masih belum punya info akurat untuk menjawabnya. Jadi ijinkan saya untuk mengenalkan Budug Asu kepada kalian dari sisi yang lain. So, check this out!

Awal tahun ini, wisata kota Malang mendadak booming lagi karena sebuah lokasi baru yang bernama Budug Asu. Sebenarnya Budug Asu juga bukan tempat wisata baru yang tiba-tiba terkenal,  karena bagi para pendaki dan pecinta motor off road, rute sepanjang Budug Asu sudah akrab digunakan sebagai jalan pintas atau jalan alternative untuk mencapai Gunung Arjuna.  Seiring dengan berjalannya waktu, jalur ini rupanya kian menarik banyak minat para motor crosser, sehingga seperti cerita lama dari mulut ke mulut banyak orang mulai mengenal Budug Asu.

medan trail kota Malang

Warga yang melihat adanya potensi untuk berkembang dari Budug Asu, mulai berinovasi untuk membuat Budug Asu lebih apik lagi. Salah satunya dengan membuatkan beberapa spot foto cantik yang digemari anak hits di Instagram. Bahkan kini Budug Asu juga sudah dilengkapi dengan toilet.

Apa sih yang ditawarkan dari Budug Asu? Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, Budug Asu adalah lereng Gunung Arjuna. Otomatis pemandangan hijau khas Gunung adalah daya tarik utama dari destinasi satu ini. sepanjang jalan menuju ke puncak, kamu akan disuguhi dengan pemandangan yang sangat menarik. Hijaunya gunung, birunya langit, semilir angin, sungguh perpaduan yang sempurna untuk Budug Asu.

Dan kerennya, untuk bisa menikmati semua keindahan alam itu kamu hanya dipungut biaya sebesar 5 ribu rupiah saja. kecuali kalau kamu berangkat lewat gerbang Kebun Teh Wonosari, tentu saja harganya akan berubah. Karena kamu akan dikenai biaya masuk Kebun Teh Wonosari sebesar 12 ribu rupiah (jika harga belum berubah).

Demi mendapatkan harga semurah-murahnya, saya yang berangkat bersama 5 teman memutuskan untuk lewat jalur lain. Kala itu saya lewat daerah Songsong sampai menemukan petunjuk arah yang menunjukkan arah Kebun Teh Wonosari lanjut sampai masuk ke area Balai Inseminasi Buatan Sapi. Kalau kamu takut tersesat tenang saja, GPS saja (Gunakan Penduduk Setempat). Karena warga di sekitar sana ramah-ramah, jadi kamu bisa tanya petunjuk jalan dengan tenang kok.

Kalau kamu pernah pergi ke Bromo, kamu pasti juga sudah tidak asing dengan medan pasir di Budug Asu. Karena sedang musim kemarau, sepanjang jalan menuju pendakian Budug Asu adalah hamparan pasir berdebu. Jadi tipsnya, jangan sampai kamu pergi ke Budug Asu dengan memakai alas kaki dan celana berwarna cerah seperti putih, kuning, atau merah muda. Biar lebih aman juga, gunakan alas kaki berupa sepatu atau sandal gunung agar saat mendaki tidak terasa licin.

Budug Asu
Kawasan Motor Trail

 

Lokasinya yang berada di ketinggian 2000 mdpl membuat pengunjungnya harus berusaha keras demi menuju puncak. Lumayan lah, itung-itung mengobati rasa rindu mendaki gunung. Setelah sampai di parkiran, kamu harus berjalan kaki di alas tanah berbatuan yang tidak rata kurang lebih 4 km hingga sampai pondok peristirahatan. Tenang saja, selama perjalanan kamu akan ditemani dengan pohon-pohon tinggi menjulang yang siap melindungimu dari panasnya terik. Jika sudah sampai di pondok, kamu akan bertemu dengan Bapak penjaga  yang bertugas untuk memberi tahu arah selanjutnya dan menarik biaya masuk lokasi.

Di situlah kami diberikan dua pilihan. Pilihan pertama adalah mencapai puncak dengan jalur pintas kurang lebih 800 meter tapi dengan kemiringan medan mencapai 40 derajat. Bapak bilang nanti di sana ada tali yang membantu selama pendakian. Pilihan kedua adalah rute berliku tapi datar sepanjang 2 km. Mengingat kami adalah kumpulan anak muda yang suka cepat-cepat, kami pun memutuskan untuk lewat jalur pintas yang curam itu. “Aku sudah biasa mendaki gunung,” pikirku dengan sedikit nada meremehkan.

Sampai di pendakian itu, kami yang terdiri dari 3 wanita dan 3 pria memutuskan untuk berbaris berseling pria-wanita agar pendakian lebih aman. Benar saja, medannya benar-benar curam, apalagi bagi yang tidak pernah mendaki dan berolahraga, saran saya lebih baik kamu lewat jalan memutar 2 km saja lebih aman hehe. Tapi kalau kamu suka menantang adrenalin monggo dicoba yang ini. Angin pegunungan yang sedang kencang-kencangnya kala itu semakin membuat dada berdegup kencang, bisakah kami mencapai puncak dengan selamat?

Sempat mengalami sedikit kendala akibat salah satu teman yang merasa lemas lantaran mendaki dengan sandal jepit, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di jalur pendakian curam. Dari sinilah saya memotret pemandangan bukit yang luar biasa indahnya, MasyaAllah.

Dengan jelas saya bisa menyaksikan betapa besar kuasa Tuhan yang menciptakan alam seindah ini. Belum sampai puncak saja saya bisa melihat hijaunya pemandangan dari ketinggian, apalagi di puncak nanti. Sungguh saya semakin tidak sabar menanti kejutan di atas sana. Seperti menjadi sebuah motivasi, kami pun akhirnya melanjutkan misi pendakian.

Karena sebelumnya saya sempat bertakabur alias sombong karena biasa mendaki, tiba-tiba di ujung pendakian lutut saya benar-benar terasa lemas tidak bertenaga. Padahal Gunung Kelud dan Gunung Bromo pernah saya daki, kenapa dengan lereng ini saja saya merasa sudah tidak bertenaga dan ingin menyerah?

Pendakian Budug asu

Salah seorang teman laki-laki yang bertugas untuk “menjaga” saya dari belakang akhirnya kehabisan kesabaran hingga mendorong saya dari belakang dan bergumam “jangan menyerah, mimpimu tercapai kalau sampai puncak.” Demi menghibur dan  menguatkan saya, rekan itu bernyanyi keras-keras tentang mimpi, sementara seorang teman saya yang lain bersiaga di depan saya untuk siap-siap menarik tangan saya. Sungguh kolaborasi luar biasa yang meninggalkan sedikit malu di dalam sana. Kenapa saya jadi selemah ini, pasti ini karma karena sudah sombong. Maafkan saya ya Tuhan.

Dan taraa, akhirnya kami ber enam tuntas sampai di puncak. Yes, finally we did it guys! Puncak yang dikelilingi dengan pemandangan hijau dari gunung yang benar-benar terasa dekat dari sini. Sungguh semua kata indah sepertinya tidak bisa saya gunakan untuk menggambarkan betapa indahnya tempat ini. Akan saya kembalikan uang 5 ribu kalian kalau semisal nanti kalian kecewa dengan pemandangannya setelah membaca rekomendasi dari saya ini. Tapi sungguh ini bukan soal berharap untuk dapat tiket gratis ke sana lagi, tapi saya memang benar-benar mengagumi segala potret pemandangan yang ada di Budug Asu.

foto grup nuansa alam

 

Bahkan di atas sini juga ada warung yang menjual makanan dan minuman loh, harganya masih terjangkau. Semangkuk mie dengan telur hanya dibandrol 8 ribu saja. Murah meriah kan? Setelah mengisi perut dengan semangkuk mie, kami mulai disibukkan dengan sesi foto. Di sinilah kami bertemu mabk penjaga yang menawarkan sebuah wahana terbaru dari Budug Asu. Kabar bahagia bagi kamu yang suka outbond menantang, datanglah ke Budug Asu. Karena di sini ada wahana outbond Castill Ferrata (Canyon Sriti Hill) yang siap menuntaskan rasa dahaga kalian dengan segala atributnya yang menantang.

Hanya dengan biaya 50 ribu rupiah saja, kamu sudah bisa menikmati semua jenis wahana yang ditawarkan. Mulai dari off road, beautiful of Sriti Hill, hammocking,  stairs to climb, via feratta, x-treme bridge, hingga canyon trekking.

Tapi sayangnya untuk kunjungan kali ini kami harus menahan rasa penasaran mencoba wahana mengingat waktu yang kami punya hanya tersisa 1 jam lagi. Sedangkan untuk menuntaskan semua wahana tersebut membutuhkan kurang lebih 1-2 jam. Jadi lain kali saya harus berangkat lagi ke sana dan menuntaskan rasa penasaran untuk mencoba semua wahana yang ada.

Setelah puas dengan foto di area satu, kami beranjak untuk berfoto di lokasi yang lain. Di sanalah kami menemukan papan kayu khas foto anak hits yang biasa diunggah di Instagram. Menawarkan keindahan langit biru dan hijaunya gunung yang terangkum dalam sebuah gambar, lokasi papan dan jembatan kayu ini memang layak dijuluki spot instagramable.

Kira-kira 2 jam sudah kami menghabiskan waktu di puncak Budug Asu, hingga akhirnya kami pun memutuskan untuk segera turun. Kali ini jalan yang kami pilih adalah jalan memutar 2 km. Karena sepertinya turun melalui jalan curam terlalu beresiko mengingat kondisi kami yang sudah lelah. Jadi sebaiknya kalian berangkat pagi sekali jam 6 atau subuh kalau perlu agar tidak merasakan kepanasan saat mendaki dan mengakibatkan badan cepat lelah seperti yang kami alami. Karena FYI, kami baru berangkat sekitar pukul 8.20 ditambah dengan perjalanan tersesat, baru pukul 10.30 kami sampai di parkiran Budug Asu.

Sekian perjalanan singkat dari 6 sekawan yang bisa saya paparkan. Sebuah perjalanan sederhana yang memberikan kesan sangat mendalam bagi saya. Jadi tidak bosan-bosannya saya untuk merekomendasikan tempat ini bagi kamu yang suka menantang adrenalin, bagi kamu yang suka mengoleksi foto apik, silahkan datang ke Budug Asu. Insyaallah semua jawaban terindah akan kamu dapatkan jika berskunjung ke sini. So, come to Malang Indonesia and enjoy this trip guys!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *