Fun Friendship Story—Perihal Memilih Teman, Ajarkan Aku Bagaimana Cara untuk Menemukan Teman yang Selalu Ada di Setiap Keadaan

Friends are the family you choose, and I choose them as a friends as a family.

Terus apa yang mau aku tulis dari kisah pertemanan di sini? Hmm, let me breathe first haha.

Jika kamu pernah membaca postingan terdahulu ku, pernah ku katakan bahwa usiaku bukan usia remaja. Bukan usia yang sedang gemar-gemarnya mencari teman sebanyak-banyaknya. Tidak, bagiku aku sudah pernah melewati fase itu. Kini tinggal ku nikmati proses seleksi alamnya untuk mengetahui mana yang bisa ku sebut teman baik. Entah bagaimana denganmu. Bagaimana kabarmu dengan temanmu? Sudahkah kamu melewati proses seleksi alam pertemanan di usia dewasa? Teruntuk kamu yang sudah atau belum melewati proses itu, ada baiknya untuk meluangkan waktu sejenak membaca sedikit unek-unek tentang pertemanan yang saya tulis ini. Masih mau diteruskan? Selamat membaca!

Teman baik, sebuah sebutan sekaligus doa. Kenapa tak ku sebut sahabat? Bukankah banyak bijak bertuah sahabat terbaik adalah diri sendiri? Setelah megalami proses panjang, melelahkan, dan sedikit menyedihkan dalam hidup sepertinya akan lebih baik untuk menyebut mereka sebagai teman baik saja bukan sahabat. Berharap bahwa orang-orang yang kupanggil teman baik ini adalah mereka yang akan membuat jalinan pertemanan ini dalam lingkaran kebaikan. Apakah kebaikan berarti bahwa mereka harus selalu ada di setiap keadaan? Rasanya cukup egois jika aku menjawab “iya” dengan lantang. Bukankah di sisa hidupku nanti aku akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama suami dan anak, bukan dengan mereka teman baikku. Lantas bagaimana bisa aku berhak menuntut mereka untuk selalu ada di setiap keadaanku?

Setiap manusia, termasuk aku, kamu, temanku, dan temanmu pasti punya hidup dan prioritasnya masing-masing. Jangankan untuk sebuah pertemanan, dalam urusan hubungan percintaan saja kita masih harus memiliki jarak dan ruang privasi kok. Kenapa harus begitu? Bukankah segala hal baik akan terjadi jika saling terbuka dan menerima di setiap keadaan? Saling terbuka dan menerima memang baik, akan tetapi menarik diri, mengambil jarak juga sebuah kebaikan untuk menyembuhkan diri dari luka akibat interaksi antar manusia. Percayalah, sebaik-baiknya hubunganmu dengan temanmu, pacarmu, keluargamu, pasti akan ada momen yang membuat salah satu di antara kalian merasa terluka. Entah terluka karena sebuah ucapan atau tindakan. Jika sudah seperti itu, biasanya suasana akan berubah canggung. Syukur-syukur jika akhirnya bisa membaik, tapi ada juga yang akhirnya membuat suasana terbalik. Yang semula dekat rekat, akhirnya menjauh dan tak lagi bisa direngkuh.

Jika sudah seperti itu, rasanya memang berteman tak perlu dekat-dekat. Tak perlu ada di setiap keadaan. Yang penting tidak saling membicarakan keburukan di belakang kemudian. Seperti itulah aku menjaga pertemananku bersama mereka saat ini. Mereka yang kini ku sebut sebagai sosok teman yang baik.

Bagiku, berteman tak mengharuskan untuk saling sependapat. Berdebatlah jika diperlukan, asal setiap pendapat yang dikemukakan tak saling menyakiti dan membawa keburukan. Biarkanlah kita berbeda pandang tapi tetap saling berusaha untuk menemukan titik terang. Berteman juga tak perlu untuk terus dekat dan rapat. Apalah gunanya kedekatan itu, jika nanti berpisah sebentar saja malah berujung saling menjatuhkan. Tak peduli jika kita berjauhan, asalkan kita saling menguatkan tanpa disertai kepalsuan dengan niat untuk menjatuhkan. Meski seringkali saat bertemu juga sering berbeda pandangan, bahkan jarang terlihat akrab apalagi bertingkah manis saat sedang berhadapan.

Percayalah, di usia ini aku sudah mengenal beragam jenis teman. Dan beruntungnya karena aku masih bisa menemukan sebagian kecil di antaranya yang benar-benar bisa kusebut sebagai teman.

Perihal pertemanan, lupakan jika kamu masih saja bersikeras harus ditemani ke mana-mana oleh temanmu. Apalagi jika sampai hati kamu tak menganggapnya sebagai teman jika ia tidak hadir di moment penting dalam hidupmu, misalnya saat perayaan ulang tahun. Sekali lagi ku ingatkan, temanmu itu juga butuh hidup untuk dirinya sendiri. Kamu itu manusia, jadi kalau diingatkan jangan keras kepala seperti batu kali saja.

Nanti kalau suatu hari keadaan berbalik, mereka enggan menyebutmu sebagai teman karena kebetulan kamu berhalangan hadir saat mereka menikah, kamu mau bilang apa? Mau mencoba beralasan punya urusan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan? Nah kalau kamu bisa beralasan, kenapa temanmu tidak?

Jadi sekali lagi mari saling mengingatkan, bahwa aku, kamu, temanku, dan temanmu itu adalah manusia. Kita manusia yang sama-sama bisa khilaf, punya urusan mendadak, bisa saling menyakiti. Jadi berhentilah untuk merasa bahwa kebenaran selalu ada pada kamu. Berhenti beranggapan bahwa mereka hanya bisa disebut sebagai teman jika bisa menemanimu di setiap keadaan. Please stop to think in a such pity way!

Jangan terlalu mendramatisir kehidupan pertemananmu. Sebagai manusia kamu tahu bahwa hidup terlalu membosankan jika kamu terus-terusan bersikap kaku dan tidak mau dikalahkan. Kalau kamu ingin punya teman baik, ya berusahalah menjadi teman yang baik untuk orang lain. Ingat dunia ini bekerja dengan prinsip apa yang kamu tabur akan kamu tuai.

One Reply to “Fun Friendship Story—Perihal Memilih Teman, Ajarkan Aku Bagaimana Cara untuk Menemukan Teman yang Selalu Ada di Setiap Keadaan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *