Jika Aku Jadi Raisa, Pasti Hidupku Bahagia. Sebuah Kisah dari Anak Manusia yang Merasa Bahwa Hidupnya Tak Pernah Bahagia

Hai, entah kepada siapa kata sapa ini saya tujukan. Setelah membiarkan blog ini usang tak terawat dan tak terjamah, kini saya kembali lagi. Haha, miris sekali. Sebagai seorang pemula bisa dikatakan saya terlampau pemalas untuk berjuang merawat dan mengembangkan blog ini. Bagaimana tidak, bahkan saya sendiri sadar tidak pernah meluangkan waktu untuk mengunjunginya. Wajar saja jika sampai detik ini mungkin tak ada manusia yang pernah mengunjungi blog ini. Ah, jangankan berkunjung, untuk tau keberadaannya saja mungkin tidak. Hehe, sedikit berlebihan tapi memang beginilah ciri khas dari penulis blog ini. Jadi sebelum menyesal karena membaca postingan berlebihan di bawah ini, ada baiknya jika Anda membaca peringatan saya di atas tadi. Jika Anda merasa bisa mengatasi permasalahan alur penulisan, gaya tulisan, hingga bahasa tulisan yang berlebihan, silahkan lanjutkan untuk membaca. Mulai dari sini saya akan mengganti kata “saya” menjadi “aku”. So, here we are.

Namaku Alif, usia mendekati seperempat abad. Pekerjaan sementara ini pengangguran. Motivasi awal membuat blog mungkin karena dulu sempat menggebu dengan dunia tulis menulis, dan merasa bahwa akhirnya I find my passion. Tapi akhirnya passion itu juga menemui titik jenuh. Sejak dibuat pada bulan Juni, blog ini hanya memuat 2 artikel. Miris, sadis, parah!

Dulu juga aku menggebu bahwa aku ingin jadi seorang fashion blogger. At least walaupun kuliah salah jurusan, aku tetap bisa berkarya lewat passion menulisku di bidang fashion. Tapi sekali lagi itu dulu, karena kini nyatanya aku sadar bahwa passion ini belum cukup untuk menghidupiku. Dan aku belum cukup kaya untuk fokus pada bidang menulis, membangun dari nol, dan mengabaikan pekerjaan lain yang jelas-jelas mendatangkan uang lebih cepat dan lebih besar, seperti menerima pesanan menjahit misalnya. Jika sudah demikian, perasaan frustasi akan bersemayam di kepala dalam jangka waktu yang lama. Karena pada dasarnya aku malas menjahit, dan suka menulis. Tapi menulis tidak memberikanku penghasilan, sementara aku anak pertama yang paling tidak harus membuat bapak ibu bangga dengan pekerjaan yang jelas dan mapan. Dan sepertinya menjadi seorang pemula di bidang menulis bukan pilihan yang tepat. Ditambah lagi aku tak mengenal sosok yang bisa membimbingku dengan sabar di bidang ini, atau relasi yang keren untuk menampung kecintaanku pada dunia menulis. So, for almost 2 months I decide to quit for my passion!

Dan sekarang kenapa aku kembali lagi? Ada banyak pertimbangan, salah satunya karena aku yang merasa bosan. Sepertinya aku bosan dengan rutinitas yang begini-begini saja. So, I decided to check what happened in the world around this month?  Salah satu cara yang kulakukan dengan stalking kehidupan manusia lewat Instagram. And that’s a bomb! Serius, itu bukan pilihan yang bagus untuk menghilangkan kebosanan dengan mengintip kehidupan orang lain. Apalagi untuk sosok sepertiku. Bukan malah hilang rasa bosan, aku malah dirundung segala bentuk keluh kesah yang memprotes keadilan Tuhan dalam memutuskan nasib manusia. Bagaimana bisa mereka terlihat begitu bahagia dengan hidupnya, dan menghasilkan banyak kekayaan lewat hobinya. Aku melihat betapa menyenangkannya menjalani pekerjaan yang sesuai hobi dan mendatangkan banyak keuntungan. Lagi dan lagi aku terjebak pada sifat kufur nikmatku. Dan mulai berimajinasi jika aku menjadi salah satu dari mereka.

Jika aku jadi Raisa, imajinasiku percaya hidupku akan jauh lebih bahagia daripada hidup yang kini sedang ku jalani. Menikmati masa-masa terindah sebagai pengantin baru dengan suami yang diidamkan oleh banyak wanita, Hamish Daud. Aku mungkin tak perlu khawatir dengan pakaian apa yang harus ku pakai esok hari, tak perlu khawatir jika jerawat tiba-tiba muncul di dahi. Setiap kata yang keluar dari mulutku mungkin akan diagung-agungkan oleh banyak manusia. Suara bidadari kata mereka. Hidupku sempurna. Pernikahan mewah yang diidamkan semua wanita, lengkap dengan cantiknya riasan yang menyempurnakan tampilan. Membayangkannya saja sudah membuatku tertawa bahagia, apalagi jika aku memang seorang Raisa. Betapa beruntungnya wanita yang bernama Raisa itu.

Jika aku jadi fotografer, ah betapa beruntungnya pekerjaan ini. Aku cukup memainkan jari dan naluri untuk membuat foto yang indah. Bonusnya jangan ditanya, ada banyak manusia yang ingin diabadikan momentnya di berbagai tempat di penjuru dunia. Selain aku bahagia karena hobi yang menjadi pekerjaanku, aku dapat bonus bisa jalan-jalan ke banyak tempat. Bertemu dengan banyak orang baru, pekerjaanku yang diakui, terkenal, banyak uang untuk membanggakan bapak ibu, dan tidak diremehkan orang lain. Betapa beruntungnya para fotografer muda itu.

Lalu aku kembali berimajinasi menjadi sosok yang kunilai sebagai orang yang beruntung. Kali ini ada nama Laudya Cynthia Bella. Namanya juga orang cantik, mau nikah sama siapa aja bebas. Sekali senyum, semua pria pasti terpikat. Parasnya rupawan, kepribadiannya menawan, benar-benar ciri khas istri idaman. Artis, penyanyi, hingga wirausahawan, pekerjaan mana yang tidak ia lakukan dengan sukses? Semua yang ia lakukan selalu mengundang decap kagum. Hingga kabar terbarunya adalah ia resmi dipersunting duda tampan dari negeri Jiran, Engku Emran. Setelah gagal menikah dengan yang sebelumnya, bahkan Bella masih sukses mendapatkan pengganti yang bisa dikatakan lebih baik. Kenapa Bella seberuntung itu? Kenapa Tuhan kenapa?

Lalu ada juga nama Gita Savitri. Sudah cantik, berprestasi pula. Menjadi seorang youtuber, vlogger dan endorser. Hmm, itu seperti pekerjaan idaman generasi millennial. Kerjanya “gampang” tapi duitnya “mblambang” (diartikan sebagai uang yang berlimpahan hingga tumpah ruah). Uang, popularitas dan kebahagiaan semua dalam rengkuhannya. Aku yang mulai kepo dengan sosok Gita Savitri mulai searching sana sini. Jujur saja karena aku juga baru tau tentang dirinya baru-baru ini. Cantik, jelas itu yang pertama kali aku gambarkan saat melihat dirinya di Instagram. Lalu beberapa postingan tentangnya mulai ku baca satu persatu. Hingga aku menemukan sebuah blog yang pernah ia kelola sendiri. Menajdi Gita mungkin nyaman sekali, bukan cuma pamer kecantikan rupa, karena aku juga yakin bahwa hatinya secantik wajahnya. Lihat saja dari gaya penulisannya. Meski sedikt terganggu dengan kata lo gue, setidaknya aku benar-benar merasa trenyuh setelah membaca semua tulisan miliknya yang ia muat di blog. Sampai akhirnya aku tersadar dari semua imajinasi liarku setelah membaca sebuah postingan http://gitasavitri.blogspot.co.id/ dari Gita tentang kehidupannya yang sepertinya banyak diidamkan orang lain.

Apa yang sebenarnya sedang aku cari di dunia ini? Apa tujuanku? Apakah dengan menjadi terkenal dan banyak uang akan membuat bapak ibuku bangga? Sisi lainku menjawab jelas bisa, aku bisa saja menaikkan haji keduanya, memberikan kehidupan yang lebih layak, hingga membiayai sekolah adikku. Tapi naluriku jelas memberontak, bukankah ibumu tak pernah meminta sebuah kekayaan? Ibu bilang dulu waktu aku kecil hartanya melimpah. Meski dulu keduanya bekerja sebagai buruh pabrik, tapi mereka tak pernah kehabisan uang untuk membelanjakan kebutuhanku di department store ternama. Jika ditanya lagi, apa aku yakin bahwa masa kecilku yang bergelimang harta lebih bahagia daripada masa dewasa yang sangat sederhana ini?  Karena nyatanya jawabannya tak bisa kupastikan 100% bahwa aku bahagia atau tidak. Entah hidup mewah atau sederhana, harusnya aku tau yang membuatku bahagia adalah rasa syukur. Bukankah segala persoalan hidup yang dialami Raisa, Bella, si fotografer, hingga Gita juga terasa lebih runyam bagi mereka? Hanya saja mereka tidak pernah menunjukkan kegelisahannya di hadapan public. Tidak berniat untuk mencari sensasi demi sebuah perhatian. Beda sekali denganku yang ingin segalanya terekspos di hadapan public, gemar mencari sensasi untuk sebuah perhatian, dan berharap bahwa suatu saat aku akan terkenal mendadak.

Padahal jelas aku sudah diperingatkan bahwa segala kepopuleran yang kupandang bahagia itu tak selamanya mengantarkan tawa. Aku jelas tahu beberapa waktu lalu ketika sosok Afi yang mendadak popular hingga dipanggil Jokowi lalu tiba-tiba hilang seperti ditelan bumi. Masih mending jika ia hilang tanpa menyisakan penyesalan, padahal kenyataannya ia hilang disertai dengan beragam hujatan. Jadi aku pasti tahu betul bahwa menjadi mereka tentu juga beresiko, tidak setiap orang bisa menyukai mereka. Bagaimana jika ada yang iri, sinis, dan dengki hingga menginginkan bahkan mendoakan untuk keburukan? Toh, menjadi kamu yang sekarang ini saja pasti merasa panas jika mendengar kamu sedang dibicarakan di belakangmu oleh orang lain. Apalagi jadi mereka, yakin kamu sudah siap dibicarakan, dirasani, dihujat oleh banyak manusia?

Jadi kesimpulan dari tulisan panjang ini apa ya? Entah kamu mau menyimpulkan seperti apa, yang jelas kini aku sedikit mulai merasa sadar. Bahwa untuk bahagia aku tak perlu jadi orang lain, ukuran bahagiaku tidak ditentukan dengan standar kehidupan orang lain. Bahwa untuk menjadi sosok yang dikenal dan dikenang juga butuh perjuangan. Segala sesuatu yang diperoleh secara instan juga akan hilang dengan cepat. Memang ini bukan berarti bahwa aku tak lagi mendamba menjadi orang terkenal, jelas aku masih seorang manusia yang ingin hidupnya berubah lebih baik. Tapi tidak dengan caraku yang dahulu, yang sukanya iri pada kehidupan orang lain, yang malas mengembangkan potensi, yang mudah merasa bosan, yang tidak pernah bersyukur. Pelan tapi pasti, aku akan memulai rutinitas untuk memperbaiki kualitas diri, dengan rajin mengisi konten di blog ini misalnya. Setidaknya aku akan berusaha untuk membangkitkan gairahku di bidang menulis ini. Tak masalah jika akhirnya aku tak pernah menjadi terkenal seperti impianku dulu, yang terpenting aku tidak akan menyesal nantinya karena sempat menyerah dengan passion yang satu ini. Aku harus mulai bisa membagi waktu dengan baik agar pekerjaan menjahit atau yang lain bisa seimbang porsinya dengan passion menulis. Serta tidak lupa untuk berbagi waktu bersama keluarga, apalah artinya kekayaan jika kita tidak punya waktu bersama keluarga? Dan sepertinya kata kunci yang akan memudahkan langkahku untuk memulai segalanya adalah rasa syukur. Karena itu Tuhanku, ijinkan aku untuk meminta agar Engkau senantiasa menganugerahiku rasa syukur atas segala hal yang terjadi di hidup ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *